[Story] Eksistensi Negara dan Keberadaan Para Pemikir
oleh: Muh. Ahlul Amri Buana, kontributor IFL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Beberapa bulan yang lalu adalah untuk pertama kalinya saya kuliah di kelas Bapak Soehino, seorang guru besar Universitas Gadjah Mada. Beliau telah cukup berumur, mengingat karirnya mengajar di Universitas Kerakyatan ini dimulai sekitar tahun 1959. Beliau mengajarkan Ilmu Negara, salah satu mata kuliah wajib bagi sleuruh mahasiswa Fakultas Hukum.
Dipikir-pikir, materi yang disajikan oleh kelas ini tak ubahnya seperti materi pada pelajaran Kewarganegaraan di bangku SMA, dielaborasikan dengan sedikit muatan Sosiologi dan Sejarah. Hanya saja tetap berbeda, objek utama pembelajaran ilmu ini adalah mengenai negara dan segala tetek-bengeknya. Di samping itu, ada juga kelas Pendidikan Kewarganegaraan yang wajib kami ikuti. Jadi, Ilmu Negara adalah sesuatu yang sebenarnya telah amat familiar dengan saya sekaligus bersifat asing. Yah, kalau dianalogikan seperti ketika kita bertemu dengan teman masa kecil yang kemudian bertemu lagi setelah 10 tahun tidak bersua; meskipun telah menghabiskan waktu bersama di masa lalu, tetap saja jika kita bertemu setelah dewasa ada sedikit kesan canggung dan asing. Seakan-akan telah banyak hal penting yang kita lewatkan dengannya, walaupun dulunya teman sepermainan.
Ok, back to the track.
Jadi, saya telah membeli buku berjudul Ilmu Negara hasil karya dosen sepuh saya itu sendiri. Karena sehabis buka puasa hari ini sedang tidak ada kerjaan (dikarenakan tiadanya hiburan dikosan) maka kemudian saya memutuskan untuk membuka-buka buku tersebut.
Disebutkan bahwa teori mengenai negara itu sendiri lahir ketika manusia memasuki zaman sejarah. Dirintis oleh pemikiran-pemikiran filsuf Classical Yunani serupa Socrates, Plato, dan Aristoteles. Ketika itu kondisi Yunani memungkinkan untuk terciptanya ide-ide mengenai bentuk negara yang ideal. Di Athena, sebuah polis atau negara-kota, pemerintahan purba mengambil bentuk Demokrasi pertama di dunia. Setiap warga negara diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan (meskipun pada kenyataannya golongan kecil hanya diwakili oleh para pemuka masyarakat atau pedagang yang memiliki kekuasaan di kota. Wanita dan anak-anak tidak memiliki rights to vote, by the way). Prototipe pemerintahan seperti inilah yang kemudian dianut oleh kebanyakan negara di dunia yang merdeka dr penjajahan. Suara rakyat memegang kendali utama (meskipun pada kenyataannya tidak tepat seperti itu).
Kemudian memasuki era Romawi, salah seorang perintis ilmu kenegaraan yang terkenal adalah Cicero. Pada era Kekristenan (abad pertengahan), pemikiran dari tokoh seperti St. Agustinus dan Thomas Aquinas melandasi pemahaman teokrasi, dimana Tuhan yang menjadi pucuk dari kekuasaan suatu negara melalui perantara Raja.
Perkembangan yang selanjutnya terjadi selama masa Renaissance dan Enlightenment adalah bermunculannya para filsuf yang mencoba merumuskan bentuk ideal dari sebuah negara. Kebanyakan dari mereka muncul karena rasa ketidaksukaan terhadap pihak keluarga kerajaan yang memiliki kekuasaan absolut terhadap kehidupan rakyatnya. Para pemikir serupa Montesquieu,J.J. Rousseau, Hobbes, Groot, dan lainnya muncul sambil membawa solusi berupa bentuk-bentuk negara maupun pemerintahan yang mampu menciptakan kondisi masyarakat yang adil dan makmur. Dengan merdekanya Amerika Serikat dari Kerajaan Inggris pada tahun 1776 maka untuk pertamakalinya dunia melihat sebuah negara yang terbentuk dari produk pemikiran filsuf-filsuf yang era reformasi.
Bentuk negara kita merupakan perwujudan dari nilai-nilai demokrasi yang dulunya dianut oleh bangsa Yunani. Dipelopori oleh Amerika Serikat yang mendeklarasikan sebuah bentuk negara baru yang berdaulat serta mandiri terlahir ke muka bumi. Beberapa abad kemudian bangsa-bangsa lain menyusul menentang penjajahan serta mendeklarasikan kemerdekaan negara mereka dengan sendi yang mirip dengan apa yang dimiliki oleh Amerika Serikat; punya presiden, pembagian kekuasaan, serta sistem republik demoratik.
Sebenarnya, eksistensi sebuah negara itu amat bergantung kepada para pemikir-pemikir terdahulu. Bentuk serta sistem sebuah negara itu merupakan hasil dari buah pikiran mereka. Dengan mengambil unsur-unsur dari peradaban lain yang telah lebih maju maka dibentuklan sistem pemerintahan yang dianggap dapat memenuhi format ideal dari sebuah negara yang bermasyarakat. Begitu simpel, tapi prosesnya memakan waktu hingga ribuan tahun. Negara yang sekarang berdiri secara sah di planet bumi dengan segala macam perkembangan serta konflik internal maupun eksternalnya itu sebenarnya hanyalah hasil pemikiran manusia biasa. Betapa jeniusnya para pemikir serta filsuf-filsuf lama yang sejak zaman dahulu telah memupuk ide akan keberadaan ‘wadah’ besar tempat masyarakat bermukim pada sebuah wilayah serta dinaungi oleh pemerintahan yang berdaulat.
Pak Soehino mengakhiri kuliahnya dengan kalimat seperti ini; “Objek Ilmu Negara yang kita pelajari ini bukanlah negara seperti Indonesia, Amerika, Inggris, Palestina atau Vatikan. Anda tidak akan dapat menemukannya di dalam peta atau dimanapun di muka bumi ini. Jadi, negara yang manakah yang sejatinya dibahas dalam kelas ini? Pejamkan mata Anda sekarang dan lihat, negara yang Anda pelajari itu ada di dalam kepala kita masing-masing.”
Wahai para pemimpin masa depan Indonesia, seperti apakah bentuk negara kita yang muncul di kepala anda saat memejamkan mata?
Muh. Ahlul Amri Buana was an 2007-2008 American Field Service YES returnee, spent a whole year as an exchange student in Athens, Ohio, USA. Currently studying in Universitas Gadjah Mada’s Law Faculty. For more information visit his blog http://reyalsluna.blogspot.com/









Meski di awal terlihat membosankan, dua paragraf terakhir sangat mengejutkan. Benar2 merangsang saya untuk terus berpikir tentang konsep ideal untuk masa depan…
Good job bro!
Salam. Yang jelas negeriu kita berbentuk REPUBLIK. Menurut penggagas pemerinrtahan REPUBLIK, Plato. Bentuk negeri tu (1.) Ada pemimpin yang Arif ( philosofer King.) (2.) Ada Guardian ( kesatria tulen jiwa dan raganya diabdikan untuk kepentingan negeri dalam hal ini rakyat yang mempunyai negara, tanah-air dan bangsa.) ( 2.) Ada warga negeri yang tekun berkarya untuk kemaslahatan umum. Jadi dasarnya adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai bidang pekerjaannya masing-masing, dan berakhlak bauik berperi kemanusiaa, Kalau di agama Hindu yang mengkastakan lapisan masyarakat. (1.) Brahmana (2.) Kesatria. ( 3.) Waisya ( pedagang, pengusaha.) (4) Sudra ( kaum buruh-tani dan orang preman ( bukan pencoleng melainkan orang yang bukan petugas atau aparat negara.) lalu ada kasta yang tak tersentuh (5.) Paria. golongan orang bebas merdeka . Untuk mewujudkan negeri yang amnanpdamai-subur-makmur syaratnya hanya SATU yaitu AKHLAK MANUSIA yang jujur, bukan akhlak penipu dan akhlak maling. Jadi walaupun namanya REPUBLIK kalau orangp[orangnya banyak yang BEJAT akhlaknya ya…. tetp saja negara yang kacau-balau, lebih kacau dari babi dikandangnya. Lalu apakah pendidikan dan ajaran agama diperlukan untuk ini? Kata orang yang membidangi agama , jawabnya : “YA”. Tanpa pendidikan dan ajaran agama masyarakat akan kacau. Karena AFGAMA itu artinya :” tidak-kacau.” Dan konyolnya setiap penganut agama, menonjolkan memujikan agamanya masing-masing. Indonesia yang mayoritas MUSLIM, ya agama ISLAM-lah yang ditawarkan untuk membentuk ” Baldatun toyiibatun wa robbun ghofuur.” Tetapi kalau nyatanya dalam masyarakat muslim sendiri banyak yang akhlaknya tidak beres, bagaiman? Sejak ditandatangani Piagam Jakarta.” kaum muslim sudah menawarkan idenya tentang syariat islam yang dipujikan paling cocok dengan masyarakat Indonesia. Tetapi tertolak dengan alasan Indonesia penduduknya menganut agama yang pluralistik, walau mayoritas ISLAM.
Mau membentuk badan pekmbina negara dari orang-orang yang hanya mengutamakan AKHLAK, pendidikan budhi pekerti atau akhlak kemanusiaan yang adil, iksan dan peduli sosial. ? Sudah. Sudah digembar-gemborkan dengan adagium bahwa masyarakat manusia itu adalah ” Homo homini sosius.” bukan ” homo homini lupus.” Tapi ini baru pengetahuan… prakteknya ya begitu itulah , bahkan bukan hanya ” survival to the fittest.” bahkan ” survival to the vulgarist.” Lha wong genosida juga dilakukan, bagaimana. Ilmu tenyang republik dan demokrasi sudah tersohor ucapan Presidaen Amerika Serikat ke 3 Thomas Jefferson. Republik didirikan supaya jangan ada pemerintahan yang menundas rakyat, jangan timbul kelompok atau komplotan kaum yang mau benar dan menang sendiri saja. Tetapi kala dalam praktek penyelenggaraan negara benar-benat muncul orang-orang jahat lalau bagaimana? Polisi. Lho “trias politika” membagi kelompok pembuat undang-undang, pelaksana undang-undang dan penegakan undang-undang dengan badan Judikatifnya. Lha kok ada embel-embek KPK, yang dinggap cecak oleh oknum polisi lalu , polisi mereka yasa supaya cecak itu cepat disingkirkan saja. Bagaimanaaaa? Jadi kalau orang Indonesia ingin mempunyai negeri yang :” Baldatum Toyiibatun wa Robbun Ghofuur.”
ya menggunakan Firman Allah di al Quraan to. Tapi pemahgaman Firman dialQuraan HARUS benar, legal, (absyah), DECENT ( layak, makruuf) HONEST ( jujur, tidak dipelintir-pelinit mrnurut selera dan kepentiongan oknum.) dam TRUTHFUL ( membawa kemaslahata umu., bukan hanya menguntungkan kelompok atau komplotan dan kaum tertentu.) Waaah ini sungguh sulit bagi manusia Indonesia yang pluralistik, sebab
nyatanya , setelah MERDEKA sepertinya terjadi HURA-HURA dan yaitu lebih kacau dari babibabi dikandangnya. Semua mau benar dan menang sendiri saja. Padahal Allah sudah memperingatkan di Q.S. 17: 8 ( lho seperti angka hari kemerdekaan Indonesia.) dan diayat 16 berikutnya. (ancaman kehancuran totaal.) Lalu siapa orang yang bisa membetulkan jalan yang sudah bengkok dan ruwet ini ? Siapaaa? Ratu Adiil? Satriya piningiit? Kyai Semar Bodronoyo? atau siapa? Segala saran, wejangan, khotbah dan kitab-kitab kerokhanian … bisakah merubah bangsa ini menjadi berbudhi bahasa yang santun dan bel;as kasih kepada sesamanya? Jadi masa depan bangsa ini hanya disebut di s at Taubah Q.S. 9: 51. Biar apapun yang terjadi, terjadilah.” Dan agar orang MUKMIN ( bukan asal muslim ) bertawakal kepada Allah. Bhakan Allah menugaskan orang MUKMIN ( mukan orang asal muslim.) untuk mendamaikan manusia. MUKMIN bukanlah monopoli muslim, silahkan kaji s. al Maaidah Q.S. 5: 69; s. al Baqarah Q.S. 2: 59. yang penting orang MUKMIN-lah dri semua agama. Nah ini memerlukan manusia yang memahami al Quan dengan BENAR untuk membereskan segala silang sengketa agama-agama. Sampai sekarangal Quran masih seperti bahan uranium yang belum diolah secara benar untuk MENGHANCURKAN segala ajaran sesat termasuk yang ditiuptiupkan sebagai AQIDAH dari oknum islam sendiri. s. al Falaq Q.S. 113: 4, 5. Jadi sebelum muncul manusia-manusi BENAR dengan menggjnakan al Qur’an. JIHAD AKBAR dengan menggunkan al Quran s. al Furqon Q.S. 25: 51. Tetapi untuyk munculnya kaum yang benar itu juga memerlukan IZIN dari Allah. Bom atoom meletuspun dengan izin Allah. Kaum pengkaji al Quran yang BANAR muncul dan menenteramkan dunia JUGA dengan IZIN Allah. Dan semua orang tahu bahwa untuk SEGALA sesuatu ada WAKTUNYA. Jadi bagaimana… menunggu wktu saja? Tidak. Orang yang sudah sadar dan YAKIN perlu mengantisipasi terwujudnya : ” Baldatun Toyiibatun wa Robbun Ghofuur itu.” Apakah sudah ada diantara kita yang sudah menyiapkan diri untuk menjadikan bumi seperti diSURGAA ? Sekaranglah waktunya orang-orang berkumpul dengan orang BAIK untuk mewujudkan KEBAIKAN dimuka bumi. Bukanomong-omong saja melaikan juga dengan TINDAKAN NYATA. s. al Hasyr Q.S. 59: 21. menjanjikan bahwa kalau al Quran sudaah diolah seperti orang mengolah URANIUM, maka akan siaplah BOM ALLAH yang sanggup membinasakan, menghancurkan gunung kebathulan dimuka bumi. Yaitu dengan pemahaman FirmanNya dan menghayati dengan sungguh-sungguh. Penghatan hidup yang ISLAMI. Penghidupan ISLAMI bukan hanya maslah makanan dan pakaia dan tata cara ibadah, melainkan masalah Akhlaq MANUSIA YANG adil, ikhsan, peduli-sosial dan benar-benar mencegah munculnya huru-hara antar manusia. Adapun bencana alam itu orang hanya bisa menanggulangi semapu akal dan kecerdasan manuisa saja. Kalau bumi sudah waktunya meletus dan berantakan siapa bisa menanggulangi? Manusia PERLU menggunakan akal-budi-nurani dan kecerdasannya untuk bisa lestari dimuka bumi dengan AMAN, DAMAI, SEJAHTERA. Dan Nabi Muhammad s.a.w. bukan penanggung jawab akan ulah tingkah manusia s. al An’aam Q.S. 6: 66.
Tetapi dengan jelas Allah menyatakan KETETAPAN-NYA di s. al AN’AAM di Q.S 6: 115 yang adalah juga s. Maryam Q.S. 19: 21 dan s.91, 92, 93. sudah ada Tanda Kebesaran Allah, Rakhmat Allah dan KETETAPAN-NYA.
Mengapa manusia tidak memahami bahasanya sendiri s. an Niisa Q.S. 4: 78. Mengapa malah BENCI kepada KEBENARAN ? s. azZukhruf Q.S. 43: 78 malah sudah bersekutu dengan AZAb q.s. 43: 39.?. SEKALILAGI KAJI SEMUA fIRMAN aLLAH DIKITAB-KITAB samawi al Maaidah Q.S. 5: 66,67, 68.
Bgaimana? Semua terpulang kepada pilihan masing-masing mau apa dan bagaimana. Allah memberikan OPSI. Dan apa ari s. Maryam Q.S. 19: 71 ? Salam MERDEKAA. Jika kau mengerti makna Firman itu, maka Firman itu akan memerdekakan kamu! Jika kau tidak peduli dengan Firmn itu, maka derajatmu lebih rendah dai HEWAN ternak s. al A’raaf Q.S. 7: 179.
Leave your response!
Follow Us on:
Jadilah Member Indonesian Future Leaders!
Login
Gallery
Blog Authors
Chatbox
ShoutMix chat widget
Twitter followIFL
Categories
Forum Diskusi
March 15, 2010, 06:02
March 15, 2010, 05:58
February 19, 2010, 08:01
February 18, 2010, 14:38
February 18, 2010, 14:35
Blogroll
Popular Posts
Archives